You Were Rainbow, They Were Color Blind

“Dia nggak mungkin suka sama gue, gue kan gendut.”
“Cowok, kan, suka cewek yang putih mulus.”
“Gue jarang ke salon, apa dia bakal tertarik sama gue?”

Jujur saja, pertanyaan-pertanyaan semacam ini sering kali saya temui di percakapan seputar percintaan. Dan kebanyakan, mereka yang melontarkan pertanyaan ini adalah perempuan. Tak bisa dipungkiri, persoalan tubuh memang tak jarang dikaitkan dengan ketertarikan dalam percintaan. Padahal, kenyataannya tidak begitu. Namun, sampai saat ini, masih banyak perempuan yang mengukur diri mereka dari tampilan fisik mereka dan bagaimana laki-laki memberi persepsi tentang hal itu. Bagi perempuan, komentar tentang tubuh yang dilontarkan oleh laki-laki sangatlah sensitif sehingga mampu membuatnya menilai apakah diri mereka pantas disukai atau tidak. Mengubah pola pikir seperti ini tidaklah mudah, namun lewat tulisan ini, saya ingin berpesan kepada para perempuan bahwa kita dicintai sebagaimana diri kita, bukan bagaimana orang ingin seperti apa diri kita.

Salah seorang teman saya sering kali mengeluhkan kondisi fisiknya yang gemuk. Ia berpikir, karena tubuhnya itulah ia sulit mendapatkan pacar. Persepsinya, laki-laki hanya menilai dirinya berdasarkan fisik, padahal ia punya banyak potensi dalam dirinya yang sebenarnya bisa dilihat oleh banyak orang secara nyata. Satu kali, ia pernah merasa depresi ketika laki-laki yang ia sukai menyebut label “gemuk” itu kepadanya. Kepercayaan dirinya runtuh. Ia merasa tidak berharga sampai-sampai mogok makan nasi selama satu minggu. Hal itu terjadi hanya karena satu kata: gemuk.

Bisa kita bayangkan betapa kuatnya satu patah kata yang diucapkan oleh seseorang hingga mampu membuat orang lain merasa tidak berarti. Itu mengapa, kita harus benar-benar menjaga ucapan kita, meski hal itu diniatkan untuk bercanda, tetap saja terkadang pesan yang disampaikan akan diinterpretasi berbeda oleh orang lain. Kita harus tahu kapan waktu yang tepat dan kata apa yang pantas digunakan untuk lelucon, karena jika sudah menyinggung perasaan orang lain, dampaknya tidaklah kecil seperti yang kita kira.

Tapi, kita semua harus tahu bahwa setiap orang terlahir dengan banyak warna, jangan ubah warna itu menjadi satu jenis hanya untuk mengikuti keinginan orang lain. Kita diciptakan dengan warna-warna indah, yang hanya bisa dilihat oleh mereka yang ‘tidak buta warna’. Mungkin si A lebih suka warna kuning, si B suka warna biru, dan sebagainya… ya, setiap orang punya warna favorit yang ingin mereka lihat, tapi bukan berarti kita harus berubah menjadi warna-warna itu hanya untuk menyenangkan mereka. Kita bisa membuat warna kita lebih menonjol agar orang lain melihatnya, dengan cara memperlihatkan potensi kita sebanyak-banyaknya. Percayalah, mereka yang benar-benar mampu melihat warna, pasti akan menyadari pelangi di dalam diri kita. Kita sudah dianugerahi berbagai warna yang sempurna, mengapa kita harus merasa tidak berharga?

Perempuan cantik adalah mereka yang mampu menyuarakan pemikirannya.

Cantik ketika mereka bisa melakukan aksi untuk perubahan yang lebih baik. Cantik ketika mereka tak haus untuk belajar. Cantik ketika mereka mengejar passion. Cantik ketika mereka bisa menjaga sikap. Cantik ketika mereka bisa merawat diri. Dan cantik ketika mereka bisa menghargai orang lain. Ada definisi cantik yang tak terhingga di dunia ini, mengapa kita hanya membatasinya dengan langsing, putih, dan tinggi? Percayalah, perempuan, kita semua bisa bersinar dengan cara masing-masing. Seperti bunga yang harum dengan caranya sendiri. Mungkin saya tidak suka dengan harum bunga melati, tapi pasti ada orang lain yang suka sekali dengan aromanya. Itu berarti, akan selalu ada orang yang menyukai kita sebagaimana diri kita apa adanya.

Perempuan, kita adalah pelangi, hanya saja… mereka yang mengejek kita terlalu buta untuk melihat warna-warna yang ada dalam diri kita. Bukan kita yang tidak memancar, merekalah yang tidak punya kemampuan untuk melihat lebih dekat. Tutuplah percakapan seputar tubuh kita, terimalah setiap warna yang ada dalamnya, dan bersinarlah.

Jadilah pelangi untuk diri kita sendiri dan orang-orang yang mampu melihatnya.

Patriarkisme, Misoginisme, dan Ketidakadilan Pada Perempuan

Tidak dapat dipungkiri isu mengenai perempuan di Indonesia masih belum menjadi perhatian publik. Isu perempuan datang dan berlalu. Desakan untuk menyelesaikan isu-isu tentang perempuan juga hanya hadir dari komunitas-komunitas yang peduli saja, bukan hadir dari masyarakat secara umum.

Tapi mengapa isu perempuan masih dianggap belum penting? Apakah ini karena masih ada persepsi bahwa perempuan inferior dibanding laki-laki?

Ketika berdiskusi dengan anggota DPR RI Komisi II, Budiman Sudjatmiko, ada istilah yang ia perkenalkan: misoginis. Istilah ini masih terdengar asing di telinga saya dan saya pun punya keyakinan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia juga masih asing dengan istilah ini.

Menariknya meski asing, istilah ini mencerminkan banyak masyarakat Indonesia hari ini. Misoginis adalah istilah di mana perempuan selalu disalahkan dalam setiap masalah atau kerusakan yang terjadi. Penganut misoginis tak mesti laki-laki, karena kenyataannya banyak juga perempuan yang menganut misoginis ini.

Tidak usah terlalu jauh untuk melihat contoh konkrit misoginisme. Lihat saja di sekeliling kita. Kalau suami selingkuh, istrinya disalahkan karena kalah cantik, kalah menarik, atau kalah melayaninya. Kalau anaknya bermasalah, ibunya yang disalahkan karena dianggap tidak becus mendidik. Yang suka menyalahkan ini bahkan lebih banyak yang perempuan daripada laki-laki. Betapa ironisnya!

“Ada semacam kontradiksi. Patriarki tapi misoginis,” kata mas Budiman dalam diskusi kami tentang gerakan perempuan itu. Budaya masyarakat Indonesia memang juga masih patriarki. Laki-laki adalah kepala keluarga, sosok yang memimpin keluarga. Tapi sebagaimana kata mas Budiman, ada kontradiksi. Yang memimpin laki-laki, tapi kalau terjadi apa-apa yang disalahkan perempuan (misoginisme).

Sarinah dan Akar Masalah

Setelah membaca buku tentang perempuan karya Bung Karno yang ia beri judul Sarinah itu, ada beberapa hal menarik yang dituliskan Bung besar utamanya soal urusan “kepemilikan” perempuan ini.

“Sudah saya katakan bahwa nafsu kepada milik, nafsu kepada milik perseorangan motornya patriarchat (patriarki). Dan bahwa perempuanpun dijadikan milik, dijadikan milik perseorangan. Sarinah (perempuan) berpindah sifat, dan sifat memilik menjadi sifat dimilik, dari subjek menjadi objek,” tulis Bung Karno dalam halaman 109 buku Sarinahnya itu.

Bung Karno bahkan mengatakan perempuan malah dijadikan benda. Perempuan harus disimpan, disembunyikan, tak boleh dilihat orang, apalagi disentuh. Maka itu Bung Karno mengutip kata-kata Edward Carpenter: “Nafsu kepada milik itu membuat laki-laki menutup dan memperbudakan perempuan yang ia cintai itu.”

Sungguh aneh. Cinta macam apa yang tega memperbudak?

Zaman dulu memang ada yang namanya perbudakan. Meski isterinya satu, laki-laki bisa membeli yang namanya selir. Perempuan persis seperti barang dagangan saja. Dibeli dengan hewan ternak atau uang, lalu kemudian dijadikan selirnya si tuan itu, budaknya si tuan itu. Tak boleh membantah, ikut saja apa kata tuan.

Zaman sekarang, khususnya di Indonesia, saya jarang melihat adanya perbudakan semacam itu. Tapi “kepemilikan” terhadap perempuan  masih ada. Perbendaan terhadap perempuan masih ada. Lebih sedihnya lagi, perdagangan itu pun masih ada!

Ketika perempuan dijadikan benda, ditakut-takuti atas nama agama,  laki-laki bebas berkeliaran. Bebas menikahi istri lebih dari satu. Tapi semua istrinya itu ia kurung. “Jangan keluar! Itu kodrat perempuan!”.  Selalu begitu katanya. Semata-mata karena perempuan itu milik si laki-laki.

Yang menguatkan kepemilikan  dan perbendaan perempuan ini juga karena adanya sistem perdagangan perempuan jenis baru. Ketika menikah, laki-laki biasanya memberikan lamaran barang-barang mewah. Perhiasan, kosmetik, baju mahal, tas, sepatu, dan banyak lagi, untuk calon istrinya.

Calon istri pada awalnya senang, ia gembira. Namun ketika sudah menikah, sudah menjadi istri. Kemudian suami menjadi merasa gagah perkasa, sudah memberikan harta bendanya kepada istrinya itu, kini istri harus menjadi pelayannya. Melayani 24 jam.

Apa namanya jika tak membeli? Karena sudah dikasih, ayo kamu jadi pelayan suamimu sekarang! Apalagi sekarang kamu makan dari dia, ayo jadi pelayan yang baik! Inilah yang namanya perdagangan jenis baru yang menghasilkan kepemilikan dan perbendaan perempuan jenis baru pula.

Tentu saya tak hendak menghapuskan sistem lamaran tersebut. Bahkan menurut saya, lamaran seharusnya menjadi suatu bentuk penghargaan kepada perempuan yang hendak dinikahi. Namun menjadi tidak benar, menjadi hancur esensi dari lamaran itu, jika dijadikan semacam alat pembayaran untuk kepemilikan dan perbendaan istri sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas.

Kini menjadi jelas — menurut pendapat saya — akar masalah dari patriarkisme yang kolot ini adalah rasa kepemilikan yang tinggi terhadap perempuan, sehingga perempuan malah dijadikannya seperti benda.

Kemudian agama dan budaya seolah menguatkan posisi laki-laki dalam patriarkisme ini. Laki-laki dianggap pantas memperlakukan perempuan itu sesukanya karena dialah yang cari uang. Tapi terkadang banyak yang lupa bahwa ini bukan karena perempuan tak mampu mencari uang. Ini karena mereka dikurung, tidak boleh keluar dari lingkungan itu.

Akhirnya perempuan terpaksa mengurusi rumah saja. Tapi semua urusan rumah jadi salah dia. Sudah dijadikan milik laki-laki, sudah dijadikan bendanya, masih saja perempuan yang disalahkan. Masakan tidak enak, salah perempuan. Rumah kotor, salah perempuan. Anaknya sakit, salah perempuan. Inilah kelahiran misoginisme.

Saya tak bilang bahwa semua masyarakat Indonesia, khususnya kaum laki-laki, berpikiran seperti ini. Apalagi saya percaya kata-kata Bung Karno bahwa perempuan dan laki-laki bagaikan sayap burung, jika keduanya sama kuat, maka akan terbanglah burung itu sampai ke puncaknya.

Tapi coba renungkanlah, adakah dari kita yang masih berpikiran sedangkal ini? Adilkah ini bagi kaum perempuan?

Mengapa Perempuan Harus Peduli Politik?

“Wah Pilkada makin dekat nih. Siapa ya yang kira-kira cocok memimpin kota kita?”

“Pilkada apaan sih? Nggak jelas ah, mending kita ngobrol-ngobrol yang lain aja..”

“Iya nih, ngapain sih lo mikirin gituan?”

Ketika seorang perempuan berbicara mengenai politik di tengah perempuan lainnya, ia bagaikan seseorang yang baru turun dari planet lain dan berbicara dengan bahasa alien. Pembicaraan politik di kalangan perempuan dianggap sebagai hal yang tabu. Politik seolah-olah bukan pembicaraan yang pas bagi kaum perempuan. Masih banyak kaum perempuan yang merasa bahwa perempuan dan politik tidak ada kaitannya satu sama lain. Hal ini sebenarnya aneh mengingat banyak perempuan Indonesia yang ikut berjuang melawan penjajahan Belanda dengan caranya masing-masing. Sebut saja, seorang gadis bernama Marta Christina Tiahahu yang terjun langsung melawan tentara Belanda atau Rasuna Said yang kerap membuat tulisan-tulisan tajam menentang penjajah.

Sebenarnya kaum perempuan selalu peduli mengenai isu-isu mengenai perempuan. Misalnya, human trafficking, kejahatan seksual, dan poligami. Belum lagi ketika kaum perempuan menjadi ibu, concern mereka akan bertambah dengan memikirkan isu-isu yang menyangkut anaknya juga seperti vaksin palsu, kekerasan terhadap anak, bullying hingga maraknya peredaran narkoba dan penyalahgunaan alkohol.

Permasalahan mengenai perempuan dan anak-anak yang menjadi concern kaum perempuan akan sulit diatasi jika suara kaum perempuan tidak terwakili dengan baik. Memang benar bahwa telah tersedia afirmasi 30% untuk perempuan dalam Pileg, namun faktanya baru 17.3% perempuan yang menjadi anggota DPR dari total 560 orang. Mereka yang mewakili suara kaum perempuan di DPR juga tidak semuanya serius memperjuangkan aspirasi perempuan. Tidak heran bukan jika perempuan selama ini kurang diperhatikan?

Keterwakilan perempuan yang minim di DPR dibarengi pula dengan kurangnya minat kaum perempuan untuk peduli dan terlibat dalam politik. Jika keadaan ini terus menerus dibiarkan, maka masa depan perempuan Indonesia akan suram. Hak-hak perempuan akan terus terabaikan dan tidak akan menemukan kemajuan setitik pun. Kepedulian dan keterlibatan perempuan penting agar hak-hak perempuan terlindungi dan masalah-masalah yang menjadi concernperempuan dapat teratasi.

Wah, kalau begitu saya harus menjadi anggota DPR dong?

Menjadi anggota DPR memang sangat baik karena dapat secara langsung mewakili suara kaum perempuan. Namun menjadi anggota DPR bukan satu-satunya jalan untuk menyiapkan masa depan yang lebih baik untuk perempuan Indonesia. Kepedulian kaum perempuan terhadap isu-isu politik juga penting. Apalagi kaum perempuan juga seorang ibu yang mendidik anak-anak generasi penerus bangsa.

Ibu yang mengerti tentang politik akan mampu menjawab pertanyaan anak-anaknya mengenai politik. “Ma, kenapa sih ada pemilu?,” tanya si anak. Lalu apakah ibu akan menjawab mama tidak tahu? . Padahal ibu seharusnya menjadi sumber ilmu utama anak di atas pendidikan formal. Jika ibu tidak mau mencari tahu mengenai isu-isu politik yang ditanyakan sang anak, maka ibu telah mewariskan ketidaktahuannya kepada anak.

Ibu merupakan unsur penting dalam proses terbentuknya karakter anak. Penelitian Harvard menunjukkan bahwa ada korelasi antara ibu yang pintar dengan anak perempuan yang pintar. Dalam penelitian ini ditunjukkan bahwa ibu yang bekerja dan memiliki pengetahuan yang baik akan memiliki anak perempuan yang pintar. Jadi para ibu yang memahami isu-isu politik akan dapat menularkan ke anak-anak perempuannya. Dengan begini, maka masa depan perempuan Indonesia tidak akan berada dalam ketertinggalan.

Jadi jika ada pertanyaan seperti percakapan di atas, “Ngapain sih lo mikirin gituan?”. Maka perempuan harus mampu menjawab dengan sederhana: “Gue harus memikirkannya karena ini menyangkut masa depan gue, anak-anak gue, dan kita semua sebagai perempuan.”

Selayang Pandang

Gerakan politik kaum perempuan merupakan bagian penting dalam sejarah perjuangan Republik Indonesia. Di Aceh, Cut Nyak Dien ikut bertempur dalam medan perang melawan Belanda. Di Sumatera, Rasuna Said kerap membuat tulisan tajam serta berorasi menentang penjajah hingga membuatnya dihukum Belanda. Di Jawa Barat atau Bandung lebih tepatnya, Dewi Sartika mendirikan sekolah agar kaum perempuan masa itu tidak menjadi kaum yang terbelakang. Di Maluku, seorang gadis yang telah menjadi pahlawan nasional Martha Christina Tiahahu terjun langsung melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura. Tokoh-tokoh ini membuktikan bahwa pergerakan perempuan ketika itu merata di berbagai provinsi di Indonesia.

Pergerakan politik perempuan bukan hal baru. Namun sangat disayangkan kepercayaan dan keterlibatan politik kaum perempuan di Indonesia kini menurun. Meski begitu, sesungguhnya kaum perempuan peduli dengan isu-isu seperti kekerasan terhadap perempuan, kesehatan terhadap perempuan dan anak-anak, human trafficking, dan lain sebagainya. Kepedulian tidak boleh berhenti di sini. Kaum perempuan bisa mengubah nasibnya dengan terlibat langsung dalam politik. Sebab setiap keputusan yang menyangkut kaum perempuan juga merupakan keputusan politik.

Disinilah kami hadir untuk menyadarkan dan membangkitkan kembali kepercayaan kaum perempuan bahwa politik merupakan sarana untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Meski begitu, kehadiran Perempuan Politik bukan semata-mata ingin mengajak kaum perempuan untuk peduli mengenai isu-isu yang menyangkut dirinya saja, tetapi juga isu-isu nasional yang harus mendapat perhatian kaum perempuan. Bung Karno pernah mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki bagaikan kedua sayap burung dalam perjuangan. Perempuan Politik ingin menjadi salah satu dari sayap burung tersebut untuk membawa Indonesia meraih cita-cita kemerdekaannya.

Kepercayaan dan keterlibatan politik kaum perempuan di Indonesia kini menurun. Meski begitu, sesungguhnya kaum perempuan peduli dengan isu-isu seperti kekerasan terhadap perempuan, kesehatan terhadap perempuan dan anak-anak, human trafficking, dan lain sebagainya. Kepedulian tidak boleh berhenti di sini. Kaum perempuan bisa mengubah nasibnya dengan terlibat langsung dalam politik. Sebab setiap keputusan yang menyangkut kaum perempuan juga merupakan keputusan politik.

Disinilah kami hadir untuk menyadarkan dan membangkitkan kembali kepercayaan kaum perempuan bahwa politik merupakan sarana untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Meski begitu, kehadiran Perempuan Politik bukan semata-mata ingin mengajak kaum perempuan untuk peduli mengenai isu-isu yang menyangkut dirinya saja, tetapi juga isu-isu nasional yang harus mendapat perhatian kaum perempuan. Bung Karno pernah mengatakan bahwa perempuan dan laki-laki bagaikan kedua sayap burung dalam perjuangan. Perempuan Politik ingin menjadi salah satu dari sayap burung tersebut untuk membawa Indonesia meraih cita-cita kemerdekaannya.